20 Butir Filosofi Pendidikan Charlotte Mason, bag.1

charlotte mason

Dalam bukunya, Charlotte Mason menuliskan prinsip-prinsip pendidikan yang dituangkan dalam 20 butir filosofi. Sebelum lebih jauh membaca ke-10 butir pertama dalam tulisan ini, silakan membaca apa itu pendidikan ala Charlotte Mason dalam tulisan berikut: Apa Yang Ingin Kamu Ketahui tentang CM?

Berikut butir-butir Filosofi Pendidikan Charlotte Mason:

  1. Children are born person.

Anak-anak terlahir sebagai pribadi utuh, mereka bukan lembaran kosong atau embrio yang baru berpotensi menjadi pribadi utuh. Mereka adalah pribadi utuh.

Memandang anak-anak sebagai pribadi utuh akan membuat orangtua menganggap anak-anaknya adalah pribadi yang unik dan istimewa, sehingga mereka berharga. Memanusiakan manusia bukan sekedar mengaktualisasikan potensi-potensinya, namun pertama-tama mengakui potensi itu ada dan mengizinkannya muncul.

2. They are not born either good or bad, but with possibilities for good and for evil.

Di sini, Charlotte menekankan betapa luar biasa pentingnya peran orangtua dalam membantu anak memilih jalan hidup yang mulia.

Seorang anak bergantung pada orangtuanya. Orangtua lah yang berperan memantik pikiran-pikirannya, hasrat-hasrat yang akan ia pupuk, perasaan-perasaan yang akan ia izinkan. Dari percikan ini akan lahir kebiasaan pikiran dan perasaan yang mengendalikannya ketika ia dewasa. Dan ini akan membentuk karakter anak.

3. The principles of authority on the one hand, and of obidience on the other, are natural, necessary and fundamental.

Adanya otoritas di pihak orangtua dan ketaatan di pihak anak adalah syarat mendasar agar rumah tangga berfungsi dengan baik.

Charlotte tidak menganut prinsip parents-centered atau children-centered education. Keduanya punya peran, hak dan kewajiban masing-masing.

4. Otoritas dan ketaatan ini dibatasi oleh respek kepada kepribadian anak, yang tidak boleh dilanggar entah dengan memanfaatkan langsung rasa takut dan rasa cinta, sugesti dan karisma, atau dengan mempermainkan secara tidak pada tempatnya hasrat alamiah anak yang manapun.

Sehingga Charlotte lebih menganut konsep principle-centered parenting, dimana relasi anak dan orangtua berpusat pada prinsip. Bisa prinsip agama, norma, hukum dan sebagainya.

Ketaatan anak pada orangtuanya, haruslah suatu ketaatan sukarela. Si anak dengan senang hati menundukkan diri kepada otoritas orangtuanya karena ia tahu orangtuanya menyuarakan kebenaran dari Otoritas Tertinggi (Allah SWT).

Dalam prinsip principle-centered parenting, orangtua dan anak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi di hadapan prinsip-prinsip yang dipegang.

5. Ada tiga instrumen pendidikan yang boleh digunakan untuk mendidik anak, yaitu atmosfer alamiah, disiplin terhadap kebiasaan baik dan penyajian ide-ide hidup. Motto CM adalah “Pendidikan adalah atmosfer, disiplin dan kehidupan.”

Charlotte percaya, setiap anak lahir dengan bekal kecintaannya pada belajar. Secara naluri, setiap manusia akan belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. Belajar adalah fitrah.

Namun seringkali, institusi menjadikan proses belajar ini tidak menyenangkan sehingga membuat kita enggan belajar sehingga naluri alamiah itu perlahan akan padam.

Menurut Charlotte, pendidikan hanya memanfaatkan dan mengoptimalkan potensi anak sebagai pembelajar, bukan menciptakannya. Tugas pendidik bukanlah membuat anak menjadi cinta belajar, melainkan memelihara rasa cinta belajar yang secara alami dimiliki oleh anak sejak lahir. Dalam hal ini, orangtua bertanggung jawab untuk menjada fitrah belajar anak-anak, karena pada dasarnya anak dilahirkan dalam potensi belajar yang sangat tinggi dari lingkungannya.

6. Education is an atmosphere; that is, the child breathes the atmosphere emanating from his parents, that of the ideas which rule their own lives.

Dalam Islam, kita memahami bahwa tubuh kita terdiri dari 3 unsur utama yaitu fisik, akal dan ruh/jiwa. Ketiganya membutuhkan nutrisi-nutrisi sesuai kebutuhannya masing-masing, yaitu makanan bagi fisik, ilmu bagi akal dan iman bagi ruh/jiwa. Dihubungkan dengan prinsip Charlotte Mason yang menggambarkan makanan bagi jiwa, adalah ide atau gagasan.

Ide bukanlah fakta, berupa catatan yang perlu dihapal dan kemudian diuji kemampuannya. Melainkan sesuatu yang bersifat spiritual, yang ditransfer melalui pikiran sebagai imaji mental. Saya rasa, meskipun bahasanya berbeda, namun tidak ada hal prinsip yang bertentangan dengan keyakinan yang saya anut, yaitu Islam.

Atmosfer pertama yang dimiliki anak adalah rumah. Dalam Islam juga dikenal, keluarga adalah madrasah pertama anak-anak kita. Namun di awal-awal pertumbuhannya, anak-anak akan belajar lebih banyak melalui orangtuanya. Atmosfer belajar, akan optimal jika diciptakan mulai dari rumah. Mulai dengan mengenal dirinya, penciptanya, baru sedikit-sedikit diajak keluar mengenal dunia yang lebih luas.

Orangtua adalah sumber inspirasi anak, begitu Charlotte menjelaskan. Kita bukan pencetak karakternya, karena tiap anak lahir telah membawa potensi kepribadiannya sendiri, namun kita bisa menjadi “pemberi inspirasi” dalam proses pembentukan karakternya.

Di hadapan anak, orangtua adalah sebuah buku pelajaran yang terbuka setiap saat.

7. Education is a discipline, disiplin di sini berarti melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik secara terencana, teratur dan bertujuan, baik kebiasaan mental dalam pikiran maupun tubuh, sesuai dengan hukum-hukum fisiologis.

Prinsip ini menjelaskan tentang melatih kebiasaan-kebiasaan baik. Setiap hari, setiap jam, orangtua sedang membentuk kebiasaan-kebiasaan dalam diri anak-anak mereka, entah secara pasif maupun aktif.

Membentuk kebiasaan anak secara pasif, dilakukan lewat keteladanan. Sementara membentuk kebiasaan secara aktif dilakukan lewat kedisiplinan, membentuk kebiasaan baik yang konsisten dan kontinu, agar menjadi landasan karakter masa depannya secara teratur (regularly), terencana (pusposefully) dan bertahap (methodically).

Dalam metode Charlotte Mason, disiplin dan habit training adalah pondasi dari semua kegiatan pendidikan. Kemudian ada habit of attention dan habit of obedience. Kebiasaan lain yang dilatih, antara lain: truthfullness, perfect execution, integrity, personal initiative, self controlling, dll.

8. Education is life. Pendidikan adalah kehidupan dan kehidupan jiwa terpelihara oleh asupan gagasan-gagasan. Tugas orangtua adalah memelihara kehidupan jiwa anaknya dengan gagasan sebagaimana ia memelihara kehidupan jasmaninya dengan makanan.

Fungsi utama pendidikan, selain formasi kebiasaan, adalah menyajikan ide-ide. Ide ini meliputi kuantitas, kualitas dan variasi yang disuplai secara rutin sesuai kapasitas usianya. Pendidikan harus meliputi ketiga aspek yang dimiliki manusia, yaitu fisik, akal dan jiwa.

Charlotte mengatakan, ‘Berikanlah kepada anakmu satu ide yang berharga, maka engkau telah berkontribusi bagi pendidikannya lebih banyak ketimbang membebankan pada benaknya berton-ton informasi.’ Cukup satu ide inspiratif saja, namun ide itu berhasil menguasai pikiran anak, maka baginya telah terjamin semangat belajar mandiri.

Ide ini harus diberikan terus-menerus dan anak pada akhirnya akan memilih sendiri ide mana yang sesuai dengan dirinya dan menjadi inspirasi hidupnya. Orangtua hanya bisa menyajikan, pilihan ada pada mereka.

9. Pikiran anak bukan ember kosong yang menunggu diisi, melainkan sesuatu yang berdaya hidup, berhakikat spiritual, dengan hasrat akan pengetahuan.  Akal manusia Allah ciptakan untuk mencerna pengetahuan dan tidak membutuhkan gemblengan khusus untuk membuatnya siap belajar.

Menurut Mason, “Seseorang dibangun bukan dari luar, tapi dari dalam. Ia adalah makhluk yang hidup, dan upaya-upaya apa saja untuk memaksakan pendidikan dari luar dirinya hanya akan menjadi ornamen-ornamen hiasan, tidak akan tinggal sebagai bagian vital dari dirinya.”

Ketika anak menemukan ide yang menurutnya berharga, secara otomatis benaknya akan bekerja, menalar, membandingkan, berimajinasi, menautkan memori, untuk mengolah ide tersebut. Tugas kita adalah menyajikan ide-ide terbaik sebagai makanan mental, mana yang anak pilih dan bagaimana mencernanya harus anak tangani sendiri secara mandiri.

10. “There is no education but self education” Pendidikan yang sejati selalu bersifat swadaya dari siswa, dimana orangtua atau guru hanya mendampingi belajar, tidak mendominasi proses belajar (the art of standing aside).

Charlotte Mason menyebut proses pendampingan ini adalah masterly inactivity, dimana orangtua tidak melakukan apa-apa tapi menguasai keadaan. Posisi orangtua ada di tengah, antara mendominasi dan sikap terlalu membebaskan.

Filosofi Herbart mengatakan bahwa akal budi bagaikan panggung kosong yang pasif menunggu datangnya informasi dari pihak luar akan membebankan tanggung jawab yang terlalu besar kepada guru untuk menyiapkan pelajaran rinci bagi anak-anak.

Padahal, semakin banyak usaha guru mencerna informasi, justru anak semakin tidak belajar apa-apa. Anak-anak yang dididik dengan cara ini akan menerima terlalu banyak pelajaran namun memahami sedikit saja.

Demikian 10 butir pertama prinsip pendidikan yang dijabarkan oleh Charlotte Mason. Sepuluh bagian kedua, akan saya tuliskan dalam artikel selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *