Anak Adalah Biji, Orangtua Adalah Tanahnya

anak orangtuaSeorang anak itu bagaikan sebuah biji…sebuah benih yang Allah titipkan pada kita.
Kita tidak tahu itu benih apa, yang kita tahu hanyalah Sang Pencipta mengamanahkannya pada kita karena percaya pada kita.

Selayaknya benih, dia sudah diberi tujuan akan jadi apa setelah besar nanti. Benih padi akan jadi padi, benih jati akan jadi jati. Maka tak selayaknya kita memaksa padi untuk menjadi jati. Dan tak layak pula membandingkan pertumbuhan padi dg jati.

Tugas kita adalah menjadi tanah…yang menyediakan nutrisi yang cukup bagi sang benih untuk tumbuh subur.
Tugas kita adalah menjadi tanah…ketika dia masih berupa biji, tanah melindunginya dari terpaan panas matahari, air yg mengalir deras maupun sambaran burung. Mendekap sang biji dengan kehangatan hingga biji pecah dan kecambah tumbuh.

Tugas kita adalah menjadi matahari…yang tak henti memberinya energi, yang tak henti memberikan kehangatan. Menjadi panduan nurani bagi hati yang masih mencari.

Tugas kita adalah menjadi tangan pelindung…yang mengairi ketika kering, yang menyiangi ilalang-ilalang saat dia masih rapuh. Hingga tiba saatnya ilalang tak lagi menjadi pengganggu kehebatan dirinya.

Jadilah tanah…jadilah matahari…jadilah tangan pelindung. Hingga suatu saat kita melihat benih mungil itu sudah berubah…akarnya menghujam bumi, batangnya menyeruak langit, dan buahnya memberikan manfaat buat sekitar…

Di saat itulah kita baru bisa berkata, “Ya Allah…amanah-Mu telah kutunaikan. Semoga Engkau ridha…”.

3 thoughts on “Anak Adalah Biji, Orangtua Adalah Tanahnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *