Belajar Mengevaluasi Diri

Bicara tentang evaluasi (muhasabah), awalnya saya sudah membuat sebuah evaluation sheet khusus untuk aktivitas anak-anak. Mulai dari lembaran mutaba’ah ibadah harian, proses belajar sampai curhatan hasil kegiatan. Saya membuat dua bagian, ada bagian yang khusus diisi oleh saya dan ada yang diisi oleh anak-anak.

Namun tampaknya proses evaluasi tertulis ini hanya berjalan di minggu-minggu pertama. Susah untuk konsisten mengisi kolom-kolom evaluasi. Apalagi anak-anak, karena aktivitas mereka pun sebenarnya nggak terlalu sistematis dan stick to schedule. Bahkan untuk mencari waktu mengisi evaluasi pun sulit. Ujung-ujungnya emaknya yang mengisi.

Setelah ditinjau ulang, proses evaluasi seperti ini nggak akan memberi efek apa-apa buat anak-anak. Karena yang tahu cuma orang tua. Paling-paling si anak akhirnya diberi nasihat begini…begini…begini…untuk lebih baik lagi dalam hal bla…bla…bla.

Kurang lebih seperti raport sekolah. Nggak terasa efeknya secara langsung (kecuali kalau si anak dapat hadiah saat rankingnya bagus dan dihukum kalau raportnya kebakaran).

Akhirnya, evaluasi bersama ini kami jadikan sebagai agenda khusus saat makan malam yang disampaikan secara verbal.

Bagi keluarga kami, acara makan malam adalah momen paling istimewa dari seluruh rangkaian kegiatan selama sehari penuh. Pertama, makan malam adalah momen dimana kami bisa berkumpul dalam formasi lengkap. Kedua, menu makan malam selalu disiapkan paling spesial dibanding sarapan dan makan siang.

image (4)

Bahkan anak-anak sering bilang, “I love dinner, because we always have special meal.” Spesial maksudnya, lengkap dalam formasi gizi. Ada sayurannya dan ada lauknya (daging ayam/sapi/tahu/tempe/ikan/seafood). Walau penyajiannya tetap sederhana aja (ini sih karena kemampuan juru masaknya memang segitu-gitunya ;p).

Kini, edisi makan malam ditambah dengan agenda evaluasi. Saat evaluasi ini, masing-masing dari kami bergiliran cerita tentang aktivitas sejak bangun tidur. Apa yang kami lakukan, apakah ibadah hariannya lengkap, pelajaran hidup apa yang kami dapat dari seluruh aktivitas, hal-hal apa yang harus diperbaiki esok harinya dan rencana apa yang akan dilakukan besok. Semua kami ceritakan sebaik yang kami bisa, dengan gaya masing-masing.

Dari sini, anak-anak belajar mengevaluasi diri kelebihan dan kekurangan mereka. Dan mereka harus bisa memetik pelajaran dan hikmah dari aktivitas yang mereka kerjakan, lalu memperbaiki kekurangan keesokan harinya. Dan pada evaluasi berikutnya, akan ditanyakan apakah kita sudah bisa menjalankan komitmen yang dijanjikan sehari sebelumnya.

Lewat proses ini, kami juga belajar tentang respecting each other. Bagaimana mendengar dan memerhatikan saat ada orang bicara. Selalu bilang “excuse me” kalau ingin interupsi atau menunggu sampai yang lain selesai. Juga meminta maaf kalau tiba-tiba sendawa atau (maaf) buang gas ;p. Menerima saran dan kritik dari orang lain, berani bicara dengan jelas, kejujuran mengakui kekurangan, dan sebagainya.

Tanpa disadari, momen ini menjadi salah satu agenda yang selalu dirindukan setiap malam. Alhamdulillah, kami sudah menjalankan aktivitas evaluasi ini setiap hari (kecuali kalau memang ada halangan yang nggak bisa dihindari). Mudah-mudahan sih terus konsisten, ya.

 

4 thoughts on “Belajar Mengevaluasi Diri

  1. idem dan sangat setujuuu…
    karena kami baru bertiga, alias baru ada abimanyu
    jadi kami lebih sering ngobrol sebelum tidur
    dan doanya sama mba Anne..
    semoga kami (kita semua deh..) terus konsisten dalam menerapkan hal-hal penting ini ya 😀

    1. Sederhana tp sepertinya jd bagian penting dlm aktivitas kita ya mbak, Lia. Mdh2an kita bs konsisten ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *