Berbagi Peran dalam Homeschooling

Keluarga adalah sebuah teamwork, dengan orangtua – ayah dan ibu – sebagai dua managernya. Ayah adalah manager utama, yang memimpin perjalanan keluarga dan menjaga agar kondisinya selalu seimbang. Ibu adalah manager domestik, yang mengatur kondisi keseharian agar berjalan pada jalurnya.

Sebagaimana dalam menjalankan keluarga, dalam keseharian homeschooling juga diperlukan kerjasama antara kedua orangtua. Meski salah satunya menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah sebagai breadwinner, tetap saja kontribusinya diperlukan.

Peran kedua orangtua ini perlu dilakukan bersama-sama sejak pertama kali memulai, hingga dalam proses keseharian selanjutnya.

Berikut ini, saya akan memberikan poin-poin di sisi mana saja kerjasama itu diperlukan dalam keberlangsungan homeschooling:

  • Kesepakatan dalam memulai homeschool.

Kan suka ada tuh, salah satu orangtua saja yang setuju anak-anaknya menjalani HS. Biasanya ibu yang ingin anaknya HS, tapi si ayah tidak mau karena berbagai alasan. Apakah HS tetap bisa berjalan?

Jawabnya, bisa. Tapi tentu saja sang ibu yang nantinya akan menjalankan keseharian bersama anak butuh energi besar karena harus melakukannya sendiri.

Idealnya memang keduanya sepakat, dan ke depannya bisa saling support dan melengkapi.

  • Memiliki kesamaan visi dan misi.

Satu keluarga tentu visi misinya harus sama. Kan nggak lucu kalau istri inginnya membawa keluarga ke hulu, sementara suami ke hilir. Nggak ketemu dong. Sehingga urusan visi misi ini harus didiskusikan dan disepakati bersama.

Saya dan suami sebenarnya sudah membahas garis besar visi misi ini di awal-awal menikah. Namun tentunya harus diperbarui, apalagi ketika memasuki dunia HS, visi misi pendidikan keluarga kemudian disusun kembali bersama-sama.

Kesannya berat ya. Sebenarnya nggak. Contoh visi misi ini misalnya, ingin menjadi keluarga yang menjalankan keseharian berdasarkan landasan Al Qur’an dan Sunnah. Kemudian misinya disusun sesuai visi tersebut, misalnya membaca dan mengaji Al Qur’an setiap hari/pekan, shalat berjamaah, dan sebagainya.

  • Siap berbagi tugas.

Pada umumnya, ada salah satu orangtua yang lebih banyak di rumah atau menemani aktivitas anak. Maka tugasnya dalam menjalani keseharian HS ini lebih banyak. Namun bukan berarti menjadi single fighter. Orangtua yang lainnya (biasanya pencari nafkah utama) harus tetap mengambil peran, baik ketika sedang ada di rumah maupun di luar rumah. Akan saya jelaskan lebih rinci kemudian ya.

  • Saling support.

Itulah kenapa, ketika memulai sebaiknya kedua orangtua punya kesepakatan, agar di kemudian hari bisa saling support.

Support ini bisa dibangun kalau sejak awal suami istri punya kesepakatan dalam memulai HS dan visi misi yang kompak. Jadi ketika menemukan masalah, semua akan diselesaikan bersama-sama. Karena ternyata, menjalankan keseharian HS itu nggak mudah juga. Baca Tantangan Tahun Pertama Homeschooling deh.

  • Saling melengkapi kekurangan pasangan.

Tidak selamanya salah satu orangtua bisa memenuhi kebutuhan anak-anak dalam berHS secara penuh. Misalnya ketika mengajarkan satu mata pelajaran. Bisa jadi si ayah lebih jago matematika dari si ibu. Maka, sang ayah harus menyempatkan untuk mengajarkan anak-anaknya matematika di sela kesibukan beraktivitas di luar rumah.

Saling melengkapi ini tidak melulu berhubungan dengan materi belajar. Bisa juga dalam peran lain. Misalnya ketika sesekali istri perlu mengupgrade diri, suami menggantikan menemani anak-anak dengan membawa ke kantor atau cuti bekerja sementara.

***

Di rumah, saya paling banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak. Sedangkan suami memang full bekerja dari sebelum terbit matahari, hingga terbenam. Kejar-kejaran sama matahari banget pokoknya. Plus kadang-kadang tugas ke luar pulau selama beberapa hari. Jadi memang anak-anak hampir 24 jam full bersama saya.

Di sini saya memang harus bisa jadi multitasked mom, yang harus bisa jadi sopir, time keeper, cleaner, cook, teacher, dan sebagainya. Lalu dimana peran Si Bebeb? Apakah dia jadi bebas tugas?

Wiiih, nggak lah ya. Bisa meledak kepala saya kalau mengerjakan semuanya sendiri. Suami, di sela-sela kesibukannya alhamdulillah tetap punya peran banyak dalam rumah tangga dan kegiatan homeschooling anak-anak.

Sebelum berangkat kerja dan sepulangnya, suami berusaha ikut serta dalam mendidik anak-anak. Dia yang bertugas membangunkan anak-anak (dan saya) untuk shalat Subuh dan mengajak anak laki-laki shalat jamaah ke masjid.

Petang harinya, dia menyempatkan untuk memasak makan malam untuk kami. Kadang bersama anak-anak atau sendiri. Ini tentu sangat membantu saya, karena dia bisa mengambil alih pekerjaan istrinya sekaligus bonding bersama anak-anak.

Usai maghrib berjamaah, suami (dan saya) bertanggung jawab untuk menemani anak-anak talaqqi membaca Al Qur’an dan mengisi liqo keluarga sepekan sekali. Saat makan malam juga suami biasanya mengevaluasi kegiatan anak-anak seharian.

Dalam hal ini, pembagian peran istri (saya) dan suami dalam menjalankan keseharian homeschooling antara lain:

  • Peran Ayah/Suami:
  1. Menentukan visi dan misi homeschooling. Sebagai imam dalam keluarga, suami yang lebih banyak berperan di sini.
  2. Menentukan tujuan-tujuan homeschooling. Dalam hal ini, suami diskusi bersama saya.
  3. Menentukan metode homeschooling yang akan digunakan anak-anak.
  4. Fasilitator kegiatan. Iya, terutama dalam memenuhi kebutuhan materi untuk kegiatan anak-anak.
  5. Melakukan evaluasi reguler. Biasanya kami lakukan dalam obrolan di meja makan.
  6. Memberi support moril kepada istri. Ini penting banget, suami harus siap jadi tempat sampah saya terutama di saat-saat istrinya galau.
  7. Memberikan feedback terhadap kegiatan anak-anak.
  • Peran Ibu/Istri:
  1. Pelaksana harian.

Nah disinilah peran utamanya homeschooling mom, yaitu menjalankan segala hal yang sudah didiskusikan bersama suami.  Sibuk? So pasti, tapi ternyata meski sibuk seorang homeschooling mom tetap bisa produktif kok. Baca tulisan tentang Kapan Homeschooling Mom Punya Me Time.

Oya, saya terkesan dengan salah satu kisahnya mbak Septi Peni Wulandani yang sempat beliau ceritakan saat kami ngobrol di sela acara camping. Ternyata beliau itu sangat well organised. Di pagi hari, sudah standby menunggu anak-anaknya. Beliau menjadikan waktu bersama anak-anaknya sebagai jam kerja yang tidak bisa diganggu oleh siapapun.

Kalau saya, nggak segitunya. Hehehe. Memang sepanjang hari, dari pagi sampai malam saya yang menemani anak-anak (terutama ketika keluar). Namun kalau ada di rumah, anak-anak sebenarnya sudah bisa belajar mandiri. Saya hadir di sana sebagai time keeper aja.

  1. Managernya anak-anak.

Posisi manager ini, saya kadang mengatur jadwalnya anak-anak atau sekedar mengingatkan apa yang harus mereka lakukan. Kami biasanya bersama-sama menentukan agenda mingguan, disesuaikan dengan kebutuhan, ketersediaan waktu dan kondisi finansial.

berbagi peran homeschooling

Kalau melihat infografis di atas, sepertinya peran ayah paling besar ya. Padahal dalam praktik keseharian, peran ibu yang lebih besar karena menemani anak sepanjang hari. Pada intinya sih, kedua orangtua harus saling bersinergi. Saya menggunakan poin-poin ini sesuai dengan apa yang saya alami di rumah.

Namun, bagi keluarga lain bisa jadi perannya berbeda. Misalnya karena yang bekerja kantoran adalah istri sehingga waktu terbanyak bersama anak adalah suami. Semua peran tersebut akhirnya terbalik dengan yang saya tulis atau malah sama sekali berbeda.

Dalam menjalankan homeschooling, menguatkan bonding antara ayah dan ibu harus dilakukan lebih dahulu sebelum menguatkan bonding dengan anak. Selesaikan dulu segalaurusan suami istri agar bisa fokus mengurus pendidikan anak.

Semua akan terasa ringan apabila peran ayah dan ibu bisa saling melengkapi dan menggantikan ketika diperlukan. Dan buat saya, meski tugasnya cukup banyak, being a homeschooling mom is the best job ever.

3 thoughts on “Berbagi Peran dalam Homeschooling

Leave a Reply

Your email address will not be published.