Hiking di Carnavorn Gorge

Perjalanan melalui jalan lurus, bebas hambatan dan lalu lintas yang sepi, bukan hal yang aneh di Australia. Apalagi di daerah outback tempat tinggal saya. Berjarak lebih dari 900 km dari Brisbane, menuju garis Capricorn, di batas area tropis dan subtropis.

 

DSC_0040
perjalanan panjang dan lurus, dihadang gerombolan sapi dan gembalanya

Jauh dari keramaian kota, bukan berarti tidak bisa jalan-jalan. Hanya saja, tujuan wisata kami bukan tempat perbelanjaan atau area wisata yang penuh gemerlap lampu. Melainkan wisata alam dan petualangan.

Seperti tujuan wisata kami di penghujung musim dingin tahun lalu. Dari Emerald, kami menuju arah Selatan. Hanya sekitar 2,5 jam, dengan jarak 240 km, kami mengendarai mobil besar bergarda ganda. Di perjalanan, banyak kami temui gerombolan sapi yang ditemani para cowboy gembala. Cowboy modern, yang tidak menunggang kuda melainkan mengendarai motor besar. Keren juga.

Tempat yang kami tuju adalah Carnavorn Gorge, sebuah wisata alam yang amat luas, dimana kita bisa tadabbur alam, menikmati indahnya pemandangan dan melihat beberapa situs peninggalan Suku Aborigin masa lampau.

Lokasinya terletak di kota kecil Rolleston. Kota yang jauh lebih kecil dari Emerald.

Di sana, kami menginap di sebuah kabin mungil tapi keren. Bentuknya mirip tenda besar, tapi isinya lengkap (1 queen bed+2 single beds), plus kamar mandi dengan bath tub. Modern banget. Kalau lebih ingin bertualang, kita bisa juga menginap di camp site. Tapi harus membawa perlengkapan camping sendiri. Tempat ini dilengkapi juga oleh restoran, bar, BBQ ground, public toilet yang banyak dan bersih bagi yang menginap di tenda.

Saat kami datang, kami hanya berkeliling sekitar kabin yang banyak terdapat kanguru liar sedang merumput. Mereka cukup jinak karena sepertinya biasa dikelilingi manusia. Hanya saja kita tidak bisa menyentuh mereka, karena begitu didekati mereka langsung kabur.

Hari pertama, kami sempat mengunjungi sebuah goa yang merupakan salah satu situs peninggalan Aborigin. Konon, di bawah batu-batu besar itu, orang-orang Aborigin tinggal. Salah satu peninggalan mereka adalah jejak hasil tulisan tangan mereka di bebatuan.

Esoknya, petualangan yang sesungguhnya dimulai.

Saya, suami dan dua bocah sudah siap dengan segala perbekalan dan perlengkapan hiking. Untungnya, karena saat itu musim dingin, suaca siang hari cukup bersahabat. Meskipun malamnya, kami harus menggigil dan sering-sering mendekati penghangat ruangan.

Tetap saja, matahari Queensland yang selalu cerah meski saat winter, membuat kami harus tetap memakai topi dan sunscreen. Pagi-pagi sekali kami berangkat. Berbekal peta, untuk panduan karena banyak jalan bercabang untuk menuju tempat-tempat yang bisa kami pilih. Ya, kami tidak mungkin mengunjungi semua tempat karena medan perjalanan yang berbeda dan jarak. Sedangkan anak saya yang kecil masih berumur 5 tahun.

Trekking ini medannya cukup mudah, meski harus melewati jalanan berbatu, meniti batu untuk menyeberang sungai, masuk ke sungai, tanjakan dan turunan… tentu saja. Tapi jalurnya relatif aman dan sangat bersih. Kami memang memilih jalur yang tidak terlalu terjal. Meski ternyata lumayan juga, ada yang harus memanjat tangga yang amat tinggi untuk menuju Amphitheater. Dan, saya yang takut ketinggian, harus merinding disko selama perjalanan.

Berikut, saya cerita lewat foto-foto aja, ya.

DSC_0081
lukisan Aborigin yang fenomenal
DSC_0386
meniti bebatuan di sungai yang tidak lagi deras
DSC_0262
tangga terjal menuju amphiteatre
DSC_0216
surga ini bernama Moss Garden
DSC_0180
belum lagi separo perjalanan
DSC_0384
lukisan Sang Maha Agung

Perjalanan ini kami tempuh selama 8 jam, dengan jarak tempuh kurang lebih 10 km. Alhamdulillah, anak-anak tidak ada yang mengeluh sepanjang perjalanan. Mereka amat sangat menikmati dan selalu riang. Bahkan, sesampainya di kabin, mereka masih kuat terjun ke kolam renang. Hanya saja, mereka hanya tahan beberapa menit. Karena airnya yang duingin banget.

Ya iya lah….winter.^^

4 thoughts on “Hiking di Carnavorn Gorge

  1. Aaaaaakkkk aku pengen banget ke sana, hanya Kakek dan Nenekku yang sudah stay 5 tahunan di Australi. Sering diceritain suasana kemping disana oke – oke huhuhuhu mupeng T___________T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *