Ketika Anak-anak Kita Milik Kehidupannya



Seorang sahabat ketika saya tinggal di Kalimantan Selatan punya seorang anak yang amat cerdas dan shalih. Di usianya yang ke-16 sudah lulus SMA, lalu melanjutkan kuliah ke luar negeri. 

Si anak hingga kini tidak kembali ke rumah. Maksudnya tidak kembali ke rumah adalah, dia kemudian menikah (sepertinya sebelum S1nya lulus), melanjutkan S2 dan bekerja di negara tempatnya kuliah (kalau si anak membaca dan info ini keliru, tolong koreksi ya ;p). 

Seorang sahabat lainnya ketika saya tinggal di Australia bilang, begitu anaknya lulus High School lalu keluar dari rumah (untuk kuliah dan bekerja), itulah momen “perpisahannya” dengan si anak. Momen dimana dia melepaskan anaknya untuk menjadi anak kehidupan. Karena si anak tidak kembali ke rumah untuk tinggal bersama orang tuanya. 

Saya pun ingat, begitu lulus SMA dulu saya kuliah di kota yang berbeda dgn orang tua dan menikah sebelum lulus. Saya tidak sempat pulang ke rumah untuk menjadi anak-anak lagi. Tapi lgsg punya kehidupan sendiri. 

Mengingat semua itu, membuat saya merenung. Waktu saya memiliki anak saya sepenuhnya mungkin hanya belasan tahun tersebut. Mungkin sampai 18 tahun itu sudah paling lama. Siap atau tidak siap, saya harus melepas anak panah dari busurnya. Menyerahkan anak kita pada dunia. Melepaskan mereka untuk menjalani kehidupan yang mereka miliki sendiri, dimana mereka berhak menentukan jalan hidup tanpa campur tangan kita. 

Tugas berat kita hanya sampai momen itu. Menyiapkan anak-anak kita memimpin dirinya sendiri dan membawa dirinya untuk mewarnai dunia. 

Dan masa-masa menjelang aqil baligh ini yang terasa sangat mendebarkan. Mendidik mereka agar menjadi anak panah yang kuat. Mampukan kami ya, Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.