Ketika Orang Tua Harus Menjadi Teladan

foto credit: justharvest(dot)org
foto credit: justharvest(dot)org

Seperti yang pernah saya tulis di sini tentang pentingnya pendidikan karakter, sangat kita pahami bahwa selain akidah, akhlaq/karakter adalah salah satu visi terpenting dalam pendidikan keluarga (unsur penting lainnya adalah ibadah). Dan, pendidikan karakter salah satunya dilakukan lewat keteladanan atau contoh yang baik.

Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW bahwa beliau mengutamakan keteladanan sikap dalam mentarbiyah sahabat-sahabat dan kaum muslimin. Ada satu istilah yang saya ingat dalam proses da’wah beliau di awal-awal yaitu QUDWAH qabla da’wah. Yaitu menjadi teladan sebelum memberi arahan.

Terbukti, hingga kini yang kita lihat dari sosok Rasulullah SAW adalah keteladanan.

Begitu juga di dalam rumah. Apalagi saat kita menyatakan diri sebagai orang tua HS, siapa lagi yang akan dijadikan role model oleh anak-anak selain orang tuanya. Bagaimana mungkin kita meminta anak-anak kita untuk makan dengan tangan kanan, tapi orang tuanya menyuapkan cemilan pakai tangan kiri. Bagaimana mungkin mengharapkan anak-anak kita mencintai masjid, kalau orang tuanya tidak pernah ke masjid. Ini contohnya.

Nah, bikin galau, kan?

Sebenarnya galau tipe ini nggak hanya terjadi di tahun-tahun awal. Tapi sampai sekarang pun masih.

Apalagi, saya seringkali dikritik oleh anak-anak. Anak saya (terutama Naufal, dia ini paling kritis dan cerminan emaknya banget) pernah cerita tentang sifat-sifat khas kami, orang tuanya.

“Abi itu adalah orang paling sabar di rumah,” katanya, dan langsung di-iya-kan oleh adiknya.

“Kalau Ummi?” tanya saya.

Dia berpikir agak lama, lalu bilang,”Ummi is a phone chatter.” Maksudnya, saya adalah orang yang seneng chatting di ponsel.

Astaghfirullah.

Lain waktu, Naufal saya tegur karena mengatakan kata ‘stupid’ saat marah terhadap sesuatu. Bicaranya pelan sih, nggak pakai ekspresi marah. Tapi saya nggak suka.

Habis ditegur, dia bilang gini, “Aku kan ngomong gitu ngikutin Ummi.”

What??

“Ummi kalau kesel saat nyetir, suka nyebut kata ‘stupid’ ke orang yang nyetirnya asal-asalan.”

Kami sempat beradu argumen. Saya keukeuh ngeles nggak pernah bilang gitu. Setelah lama, saya mikir, mungkin saya memang nggak sadar ngomong kata stupid dan anak saya menyerap kata itu dengan cepat dan mudah.

Waduh *tutupmuka*.

Setelahnya, saya galau (nggak usah diceritain lagi lah ya, kalau dalam kondisi galau gini, air mata saya pasti berebut keluar). Saya bisa nggak ya jadi contoh teladan buat anak-anak.

Ini baru hal kecil. Bagaimana dengan urusan ibadah. Lalu adab-adab yang lain. Atau akhlak saya yang lain yang keluar tanpa saya sadari. Semua akan dicontoh oleh anak-anak, kan?

Ya, ini adalah tantangan besaaaar buat saya. Galau yang masih menjalar kronis dalam diri saya, betapa peran orang tua dalam mendidik bukan hanya sebagai fasilitator. Namun yang lebih dahsyat dari itu, orang tua akan dilihat dan ditiru.

Ingat video “Children See, Children Do”, kan?

Tentunya, hal ini bukan berarti kita harus menjadikan diri kita seperti malaikat, yang tanpa cela. Namun ini akan memotovasi kita untuk terus belajar, seperti dalam postingan sebelumnya di sini. Apalagi kondisi saya yang bukan ustadzah atau guru, melainkan hanya orang biasa yang masih jatuh bangun mendidik diri sendiri.

Sehingga ada beberapa hal yang saya jadikan pegangan untuk menenangkan hati dan menyemangati diri sendiri. Diantaranya:

  1. Membuka komunikasi dengan anak lebih luas lagi. Sering diskusi dengan anak tentang banyak hal. Ini bisa menjadi bahan belajar kita para orang tua. Malah, seringkali orang tua yang belajar dari sikap anak.
  1. Jelaskan dan tunjukkan pada anak, bahwa orang tua hanyalah manusia biasa yang bisa berlaku salah. Bukan orang sebaik Rasulullah SAW, apalagi malaikat. Mengakui kesalahan saat berbuat salah, lalu memint maaf, bisa membuat hati kita tenang.
  1. Izinkan anak mengkritik orang tua. Mengingatkan saat orang tua melakukan kesalahan.
  1. Menjadikan momen bersama anak sebagai proses belajar bersama. Sejatinya, HS bukan hanya pendidikan untuk anak saja, tapi untuk seluruh anggota keluarga.
  1. Banyak istighfar. Ini menenangkan sekali. Banyak berdoa pada Allah agar diberi kemampuan dan kekuatan untuk mendidik anak dan diri sendiri.

Proses Hs ini ternyata jalan yang panjang bagi seluruh anggota keluarga. Untuk belajar dan menjadi baik secara bersama-sama. Bahagia dan kecewa bersama. Membangun mimpi bersama. Jadi dinikmati saja. Walaupun penuh kegalauan.

 

10 thoughts on “Ketika Orang Tua Harus Menjadi Teladan

  1. Serasa tertampar juga baca artikel ini mb Anne, kadang masih sulit mengontrol emosi. Saya dan suami masih berjuang keras agar bisa jadi role model yang baik buat anak-anak kami. Terima kasih pencerahannya. Ditunggu artikel lainnya…. :))

Leave a Reply

Your email address will not be published.