Memperkenalkan MEA dan Persaingan Global pada Anak

Tidak hanya para orang tua yang harus sigap dan tanggap akan hadirnya MEA yang resminya diberlakukan 1 Januari 2016 lalu, namun anak-anak juga perlu diperkenalkan dengan makna MEA dan persaingan global yang kelak menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Kenapa?

Karena di keluarga kami, yang menganut (sebagian besarnya) metode unschooling dimana pendidikan anak-anak lebih ditekankan pada penggalian minat sejak dini, pemahaman tentang MEA ini cukup penting.

Banyak perubahan yang signifikan terjadi di dunia pendidikan. Yang sudah berjalan misalnya adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi yang mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Kalau dulu, bekal pendidikan siswa sekolah cukup berdasarkan ijazah saja, sekarang kertas sakti yang memuat nilai itu tidak cukup.

Ada standar tersendiri yang dibuat sesuai dengan kompetensi anak, yaitu berupa Sertifikat Kompetensi yang memberlakukan standar tertentu. Saya nggak akan membahas banyak tentang sertifikasi yang belum sepenuhnya saya cerna ini. Namun, ini menjadi satu perhatian bagi kami para orang tua homeschooler yang bergerak mandiri tanpa melewati institusi seperti sekolah untuk memilih jalur mana yang kelak akan mengantarkan anak-anak menuju tempat yang tepat.

mea dan persaingan global

Memperkenalkan Tentang MEA dan Persaingan Global

Membahas tentang MEA dan persaingan global pada anak-anak tentu nggak semudah bicara tentang proses metamorfosis atau hukum kekekalan ruang. Ada proses panjang dan perlu pembahasan bertahap yang mungkin sulit dimengerti anak-anak yang belum pernah berkenalan dengan disiplin ilmu seperti geografi, pemerintahan dan lain-lain.

Oleh karenanya, saya baru bisa berdiskusi tentang MEA dan persaingan global ini dengan Naufal yang usianya sudah lebih dari 11 tahun. Itupun tetap saja, perlu ada flashback agar dia memahami frame utuhnya.

Apa saja tahapan yang kami bahas dalam diskusi ini:

  1. Memperkenalkan tentang negara-negara ASEAN, mulai dari batas wilayah geografi, demografi, budaya, sosial dan ekonomi. Enaknya belajar tanpa beban ujian (baca: belajar ala homeschooler) adalah, kami bisa melakukannya tanpa panduan buku. Kami bisa belajar sambil mengobrol santai, menggambar, membaca globe atau lewat film.
  2. Memperkenalkan hubungan-hubungan antar negara yang pernah dibangun antar negara-negara ASEAN, tipe pemerintahan dan kebijakan sederhana. Nggak usah membahas yang susah-susah dan jelimet, cukup lewat obrolan santai atau mendongeng.
  3. Menjelaskan tentang mekanisme yang terjadi ketika MEA mulai diberlakukan.

Untuk poin ini, yang kami bahas adalah:

  • Pemberlakuan bea dan cukai atau tax pada proses ekspor impor. Anak-anak mudah memahami jika dijelaskan dengan analogi ringan, seperti jajan di warung dan belanja sehari-hari.
  • Izin kerja yang terbuka bagi tenaga kerja asing. Kami punya pengalaman tinggal di luar negeri (Australia) karena urusan pekerjaan. Beberapa kejadian proses mutasi kerja ini pernah kami bahas, dan ini membantu memberi gambaran tentang izin kerja, sponsorship, visa dan residency.
  • Menjelaskan relasi negara-negara ASEAN, bahwa Indonesia dan negara tetangga memiliki banyak kesamaan sehingga kita bersaudara. Ini sekaligus memberi bekal bagi anak-anak agar tidak menganggap musuh orang yang datang dan tidak mudah terpancing jika ada yang mengatakan hal-hal negatif tentang negara lain.
  • Memahami keberagaman. Selain persamaan, tentu ada perbedaan. Namun, perbedaan ini jangan sampai membuat perpecahan. Anak-anak suka jika diberi contoh melalui dongeng atau cerita yang terjadi dalam keseharian mereka.

Dari poin-poin di atas, anak-anak mulai paham bahwa kondisi MEA dan persaingan global ini memang benar-benar terjadi.

Manfaatnya adalah agar mereka aware dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, karena dengan adanya MEA dan persaingan global PERSAINGAN AKAN SEMAKIN KETAT, namun PELUANG JUGA AKAN SEMAKIN BESAR.

Bagaimana tidak, mereka kelak (termasuk kita juga) akan bersaing dengan jutaan orang di luar sana yang memiliki kompetensi beragam, minat yang sama dan peluang yang sama. Memahami ini dapat dianalogikan seperti berjuang mendapatkan tempat terdepan dalam sebuah lomba sederhana. Siapa yang paling sanggup memberikan yang terbaik, akan lebih besar memperoleh peluang untuk sukses.

Wah, memang nggak bisa membahas ini dalam obrolan satu atau dua jam saja. Jadi, jangan memjadikan ini sebagai obrolan serius, melainkan ajak anak-anak untuk berdiskusi santai setiap makan malam atau duduk di ruang keluarga sambil ngemil.

Sebagai orang tua, tentu akan menjadi PR besar ya, mempersiapkan anak-anak menghadapi MEA dan persaingan global ini. Bukan hanya memberi informasi saja buat mereka tapi menyusun kekuatan. Ibaratnya persiapan perang, ini bagaikan mengumpulkan amunisi.

Persiapan agar anak-anak mampu bertahan dalam MEA dan persaingan global adalah:

1. Menemukan minat dan bakat anak and let them do it eagerly.

Kenapa minat dan bakat perlu ditemukan dan ditekuni sejak dini, karena ini berhubungan dengan jam terbang mereka untuk menjadi seorang expert di bidangnya. Rene Suhardono pernah mengemukakan, seseorang bisa dikatakan expert dalam suatu bidang apabila sudah menjalani atau memiliki jam terbang selama minimal 10.000 jam.

Kalau anak-anak kita sudah menjalaninya sejak dini, maka untuk mencapai jam terbang 10.000 tentu usia mereka pun masih muda ya.

Coba lihat Rio Haryanto yang sudah menjadi pembalap F1 di usia belia. Atau Tiger Wood yang sudah berlatih golf sejak usia 3 tahun. Di usianya yang matang dia sudah menekuni dunia golf selama ratusan ribu jam, bahkan mungkin lebih.

(Baca tentang Menemukan Bakat Terpendam Anak)

2. Membuat portfolio. Selain sertifikat kompetensi, portfolio merupakan hal penting yang wajib dimiliki anak kita. Isinya adalah daftar atau catatan karya yang pernah mereka buat. Dalam portfolio ini, akan menjadi catatan perjalanan berkarya atau meengerjakan project sesuai minat mereka.

3. Mengajarkan tentang softskill. Apa saja yang termasuk softskill:

  • Kemampuan berkomunikasi verbal, menyampaikan ide lewat presentasi dan tulisan, meyakinkan orang lain dan negosiasi.
  • Leadership.
  • Kemampuan bekerja sama atau team work.
  • Self-adjustment pada lingkungan baru atau perubahan kondisi.
  • Good personality.

Kemudian tentang hardskillnya, yaitu kompeten bekerja sesuai bidangnya secara baik dan benar.

(Tentang softskill ini, silakan baca: Menemukan Minat Anak Lewat Pembiasaan)

Sepertinya berat ya yang harus dilakukan oleh orang tua. Namun, ini ternyata bisa dibangun dalam kegiatan sehari-hari. Seperti sebelumnya saya pernah menulis tentang pendidikan karakter dalam: Bahwa pendidikan keseharian itu kelak menjadi bekal utama mereka.

Tinggal bagaimana kita para orang tua mau dan bersabar menerapkan pendidikan yang baik dan integral dalam kehidupan mereka.

Kalau dalam keluarga kami, saat ini kami tidak berorientasi pada score result, atau tidak memberi target berupa nilai atau prestasi tertulis. Kami ingin anak-anak belajar bertahap. Bahwa untuk membangun diri mereka seutuhnya, yang capable baik soft skillnnya maupun hard skillnya, semua berawal dari interaksi yang baik di keluarga.

Little thing means a lot.

Melatih anak-anak berinteraksi dan menjalani kesehariannya dengan baik, bermula dari mengenalkan adab yang baik merupakan pijakan pertama yang kami tanamkan dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi MEA dan persaingan global.

Tahapan-tahapan ini akan berkembang sesuai usia dan perkembangan emosional mereka. Tanpa karbitan atau akselerasi yang sifatnya terburu-buru. Kami juga ingin agar anak-anak menjadi pribadi yang selalu bahagia (baca: Anak Harus Bahagia).

4 thoughts on “Memperkenalkan MEA dan Persaingan Global pada Anak

  1. so inspiring! Saya mahasiswa yang kebetulan ingin melakukan pengabdian masyarakat ke SD dgn sosialisasi MEA. Saya jadi punya gambaran bagaimana menjelaskan ttg MEA kepada anak” SD. Analoginya jg simple tp tetap mudah di mengerti. Terimakasih, bu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.