Memelihara Ulat

Ungkapan seorang teman terasa melekat dalam memori saya. Katanya:

Alam adalah laboratorium dan ruang kelas terbaik.

Dan ini saya buktikan bersama anak-anak  sejak kami memulai homeschooling. Memang, kami nggak melulu beraktivitas outdoor karena saya dan anak pertama (Naufal) tipe pembelajar indoor. Lebih suka aktivitas dalam perpustakaan, di depan meja atau laboratorium indoor.

Namun, apa yang kami pelajari tentang fenomena alam tentu diperoleh dari alam yang Allah ciptakan. Tanpa perlu bayar mahal, tanpa perlu les lewat pengajar profesional dan tanpa peralatan eksklusif.

Kali ini, kami belajar tentang “Kehidupan Ngengat/Moth.”

Awalnya, secara nggak sengaja kami menemukan seekor ulat di rumah. Warnanya hijau, tanpa bulu dan menggeliat-geliat mencari tempat nyaman.

Anak-anak saya sebenarnya pecinta binatang, nggak seperti Umminya yang takut binatang. Tapi justru mereka takut ulat, terutama ulat bulu. Dan mereka pun takut ulat hijau, kecil, nggak berbulu yang sama sekali nggak menakutkan ini. Setelah dibujuk, barulah mereka mau deket-deket si ulat.

Akhirnya, kami sepakat untuk menjadikan ulat ini hewan peliharaan. Dia kami tempatkan dalam sebuah kontainer bening, yang sudah dilubangi untuk ventilasi dan diberi daun sebagai makanannya. Kemudian kami perhatikan perubahannya dari hari ke hari.

Selama beberapa hari pertama, nggak tampak ada perubahan. Si ulat bergerak sana sini, mengunyah sana sini. Kami jadi teringat kisah tentang ulat dalam buku “Crunching Munching Caterpillar”, tentang seekor ulat yang makaaan terus sebelum berubah jadi kepompong.

Dan apa yang terjadi dengan si ulat? Warnanya berubah kecoklatan. Dari salah satu bagian tubuhnya, warna coklat itu lama-lama menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. Dan dalam dua hari, warnanya menjadi coklat tua (tampak seperti hitam).

Dia telah berubah menjadi kepompong.

Kalau digerakkan tampak ada geliat kecil dari dalamnya. Anak-anak makin semangat memerhatikan si kepompong. Sehari, dua hari, sampai kira-kira seminggu, kami terus perhatikan. Sampai suatu hari, kami lihat kepompongnya robek. Isinya menghilang.

Waah, sempat sedih dan kaget juga. Berarti ulatnya sudah berubah jadi kupu-kupu (awalnya kami belum tahu kalu dia adalah ngengat/moth). Eh ternyata, di ujung salah satu daun yang mengering bertengger seekor makhluk kecil berwarna coklat. Pantas nggak kelihatan, dia seperti berkamuflase dengan si daun.

Sosok itu diam, tak bergerak saat disentuh. Kami sedih lagi, karena menyangka dia mati. Saya bahkan sempat membuangnya ke tempat sampah. Alhamdulillah anak-anak keukeuh melarang saya membuangnya. Pas saya ambil dan membuak tutup kontainernya, dia terbang perlahan.

Yaaay, si ulat sudah berubah menjadi ngengat. Anak-anak bahagia bukan main. Si ngengat-pun kami lepaskan agar bisa hidup di habitatnya di kebun belakang.

plantstep
copied from here
DSC_0002
transformed into cocoon
DSC_0004
when she was in the cocoon
DSC_0015
she’s a beautiful moth

Dari aktivitas ini, anak-anak belajar banyak hal. Mereka juga jadi nggak takut ulat. Bahkan, mereka ingin memelihara ulat bulu hingga menjadi kupu-kupu yang berwarna-warni.

Tentang science, setelahnya kami belajar tentang metamorfosis dan morfologi ngengat (moth), serta perbedaannya dengan kupu-kupu.

Ini yang kami dapatkan:

from twicsy.com
from twicsy.com

2 thoughts on “Memelihara Ulat

  1. Wah mbak Anne, PR banget nih saya takut pisan sama ulat. Sementara di rumah lagi banyak ulat bulu dan anak saya pingin banget pelihara.. kayaknya emang emang harus berpasrah agar bisa mengambil ulatnya dan menaruh di kandang. Semangat..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *