Menemukan Bakat Terpendam Anak

Menemukan bakat terpedam anak kadang kala seperti menemukan sebuah harta karun berharga, lho. Ini saya alami pada diri saya sendiri.

Sejak kecil, sebagaimana orang tua era 80-90an pada umumnya, menilai keberhasilan anak-anaknya dari nilai akademisnya. Begitu juga orang tua saya yang selalu menekankan prestasi sekolah sebagai tolak ukur keberhasilan.

Ya, saya termasuk berhasil. Sejak SD hingga Universitas, saya hampir nggak pernah mengecewakan orang tua dalam hal prestasi akademis. Meskipun pernah jatuh saat kelas 1 SMA dan semester 2 kuliah, saya mampu membayarnya dan memberi hasil yang cukup bisa dibanggakan di hadapan mereka.

Fokus saya bertahun-tahun adalah bagaimana membuat orang tua bangga dan lulus di berbagai bidang dengan hasil yang baik. Ketika orang tua bangga dan membanggakan diri saya di hadapan orang lain, sepertinya saya terbang ke awan tertinggi.

Akibatnya, saya lupa pada minat dan potensi saya. Ya, meski sudah terbukti bahwa saat itu saya cukup berpotensi di bidang akademis, namun ternyata ada hal-hal di dalam diri saya yang mendesak-desak ingin keluar dan baru benar-benar saya temukan ketika saya sudah melewati satu titik jenuh berada di dunia yang berhubungan dengan akademis ini.

Ternyata apa yang saya geluti selama ini bukan passion utama saya.

Mungkin banyak orang mengalami hal demikian. Bertahun-tahun sekolah dan berkarir tanpa memikirkan atau menyadari apakah itu passionnya. Atau banyak orang yang terlambat menyadari, ketika karir sudah berada di puncak dan tanggung untuk berhenti.

Ini satu pelajaran berharga yang ingin saya ubah dalam kehidupan anak-anak saya. Apalagi saat ini pilihan lebih terbuka lebar. Jalur akademis bukan satu-satunya tangga kesuksesan. Namun, PR kita yang cukup berat adalah menemukan apa minat dan bakat anak kita.

Kalau kita ingin mengarahkan anak kita sesuai passionnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukan passion tersebut, bukan?

Teman saya pernah bilang bahwa dia belum menemukan minat anaknya yang sudah berumur 12 tahun (saat itu, entah sekarang ya). Dan dia cukup resah karena melihat anak-anak lain yang umur di bawahnya rata-rata sudah menemukan dunia yang diminati.

Lalu teman saya yang lain pun galau, karena minat anaknya berubah-ubah. Sementara dia sudah banyak mengeluarkan uang mengikutkan anaknya ke berbagai les dan komunitas, tiba-tiba ketika sudah sampai di level yang cukup tinggi, si anak bosan dan ganti minat.

Well, wajar sih ya kalau orang tua galau karena ini.

Alhamdulillah, anak-anak saya sudah menunjukkan minat pada beberapa hal spesifik sejak kecil. Namun ya, minatnya sering berubah-ubah juga kok. Anak yang pertama, pernah minat pada dunia robotic dan selama setahun ikut les robotic. Lalu bosan dan bilang itu bukan passionnya.

Anak saya ini pernah minat di dunia memasak, tapi kemudian yang lebih rajin memasak malah adiknya. Adiknya ini katanya senang masak, tapi cita-citanya ingin jadi ahli zoologi atau dokter hewan.

Menemukan Minat Anak

Menurut saya sih, nggak ada cara khusus bagaimana menemukan minat terbesar anak-anak. Yang perlu kita lakukan adalah menemani mereka berkegiatan. Dan lama-lama si anak akan menunjukkan apa yang paling senang dia lakukan.

Ketika si anak menyenangi sesuatu, dia akan mengulangi hal tersebut dan melakukannya dengan bahagia. Contohnya, anak teman saya yang awalnya ikut berbagai cabang olahraga di sebuah pusat kebugaran khusus anak-anak di Jakarta. Lama-kelamaan dia hanya menyukai satu cabang olahraga, dan berprestasi baik hingga mengikuti berbagai kejuaraan.

Salah satu indikator lain si anak menyukai sesuatu adalah dia akan melakukannya, tanpa disuruh atau diminta oleh siapapun. Kalau dibuat bagannya, hubungan anak terhadap minat dan bakat akan seperti ini:

minat dan bakat anak

 

Easy

Maksudnya adalah anak akan mudah melakukannya tanpa diminta, apalagi dipaksa. Kalau anak kita mulai tidak berminat sehingga orang tuanya harus memaksa, kita harus menahan diri dulu. Jangan teruskan untuk meminta anak melakukan hal yang nggak diinginkannya.

Kita perhatikan respon dan sikapnya. Mungkin si anak sedang jenuh, atau bahkan dia sudah tidak lagi minat. Ambil langkah pelan-pelan juga sebelum memutuskan. Bisa jadi si anak hanya butuh sedikit break, motivasi atau selingan. Dan dia akan melanjutkannya.

Kalau ternyata memang si anak sudah nggak mau lagi melanjutkan, jangan lagi dipaksa untuk alasan kepentingan orang tua. Misalnya karena orang tua sudah mengeluarkan uang banyak atau mengorbankan banyak waktu.

Kalau anak menyenangi sesuatu, dia akan easy kok melakukannya.

Enjoy

Ini adalah salah satu indikator yang bisa kita pakai untuk menemukan minat anak. Dia senang melakukan sesuatu dan akan dilakukannya berulang-ulang. Bisa jadi, minat anak kita bukanlah sesuatu yang orang tuanya sukai.

Contohnya, anak teman saya sangat menyukai serangga. Tahu tidak, ayahnya itu sangat takut pada serangga. Dia bisa sampai menjerit ketika bertemu kumbang atau ulat. Tapi apa yang dilakukan si ayah? Demi minat anaknya, dia berusaha berdamai dengan cara apapun.

Atau contoh lain, si anak sangat menyukai game. Jangan protes dulu. Suka game bukan berarti si anak kelak akan menjadi gamer sejati. Tapi dari sini, kita bisa encourange anak untuk tidak hanya menjadi pengguna, melainkan pencipta. Arahkan si anak untuk mengembangkan minatnya agar lebih berkembang. Jangan tiba-tiba dihentikan.

Excellent

Kalau si anak sudah menunjukkan minat yang kuat terhadap sesuatu, selanjutnya kita bisa mendorongnya untuk baik di bidang tersebut. Atau jangan-jangan tanpa dorongan orang tua pun si anak akan berusaha sebaik mungkin asalkan dia merasa orang tuanya mendukung.

Kalau anak sudah mencapai tingkat ini, bukan berarti juga ini akan menjadi cita-cita masa depannya. Tetaplah terbuka untuk perubahan apapun. Justru ketika si anak merasa ingin menyentuh dunia lain, artinya dia punya potensi lain yang bisa dikembangkan.

Disinilah kita bisa menangkap bakat terpendam anak. Kalau si anak bisa menghasilkan sesuatu yang baik dari minatnya, dia bisa dikatakan berbakat.

Eh, tapi jangan salah. Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan, berbakat tidak selalu menunjukkan bahwa si anak berminat pada hal tersebut. Untuk hal ini, bisa dikomunikasikan dengan anak apakah dia ingin mengejar minatnya dahulu atau meneruskan bakatnya.

Earning

Minat dan bakat yang dilakukan secara terus menerus dan berbuah hasil yang baik, pada hasilnya akan bernilai ekonomi. Orang yang menjalaninya akan earning/mendapat penghasilan. Nah, kalau anak-anak kita sudah menjalankan minatnya cukup lama dan konsisten, orang tua bisa terus encourage mereka untuk mulai ber-entrepreneur sederhana lewat minatnya ini. Misalnya mengajar atau menjual hasil karyanya. Pasti mereka senang dan semakin merasa dihargai.

Meski, kita harus terus menanamkan bahwa nilai penghargaan suatu pekerjaan bukan dari besarnya uang yang diperoleh namun dari seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.

***

Menyelami minat dan bakat anak bukanlah sesuatu yang instan dan dapat kita lakukan dalam waktu satu atau dua bulan, bahkan belum tentu ditemukan dalam satu atau dua tahun. Selama proses pencarian, yang penting anak-anak kita menjalankan apa yang dilaluinya dengan happy, meskipun ternyata itu belum menjadi minat terbesarnya dan dia belum berbakat di sana.

Selamat berpetualang menemukan bakat terpendam anak-anak, yaa.

7 thoughts on “Menemukan Bakat Terpendam Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published.