Menimbang Homeschooling di Masa Pandemik COVID19

menimbang homeschooling pandemik covid19

Tema homeschooling sedang meningkat di berbagai kelompok obrolan di media sosial. Sebagiannya justru diangkat oleh non praktisi, alias teman-teman yang anak-anaknya bersekolah formal. Mengingat kondisi sekolah online yang masih belum jelas arah dan lamanya. Wacana kembali ke sekolah pun terasa bagaikan momok yang menakutkan karena negeri ini belum “suci” dari virus corona.

Sehingga, banyak orangtua yang melirik alternatif untuk ber- homeschooling, dengan asumsi homeschooling adalah sekolah di rumah.

Nah, kalau homeschooling artinya sekolah di rumah, lalu adakah bedanya dengan school from home, yang sudah diterapkan selama karantina pandemik covid19 ini?

Hari Kamis lalu, saya sempat mengumpulkan beberapa teman yang sedang menimbang homeschooling dan ingin tahu apakah homeschooling adalah solusi selama karantina. Dalam sesi obrolan via zoom meeting ini, saya dan suami memberi gambaran dahulu tentang konsep pendidikan secara umum, kenapa kami memilih homeschooling, bukannya menyekolahkan anak di sekolah formal.

Tentunya di blog ini kami sudah banyak memaparkan alasan kenapa kami memilih homeschooling. Dan seyogyanya, ketika kita memutuskan untuk menjadi praktisi homeschool, selain kita sudah paham bagaimana sesungguhnya konsep homeschooling ini, kita juga punya WHY=MENGAPA yang kuat yang menguatkan langkah kita.

Untuk sedikit kilas balik mengulas tentang definisi homeschooling, secara singkat digambarkan dalam bagan di bawah ini.

Tujuan Kami Menjalankan Homeschooling

Homeschooling adalah satu tools yang posisinya sama seperti sekolah, yaitu metode mendidik anak. Bedanya dalam homeschooling, yang berperan adalah orangtua. Kenapa kami memilih homeschooling? Alasan utamanya karena kami ingin melakukan pendekatan yang berbeda dalam mendidik anak-anak, tidak seperti yang dijalankan oleh sekolah pada umumnya.

Alasan fundamentalnya seperti yang digambarkan dalam bagan berikut:

Dasar-dasar metode pilihan kami, akan saya tuliskan dalam artikel berikutnya: Manajemen Keseharian Homeschooling.

Homeschooling Bukan Sekadar Belajar di Rumah

Karena dari sebagian besar praktisi homeschooling (termasuk kami), tidak melulu belajar di rumah. Kami belajar di mana-mana, karena anak-anak membutuhkan ruang belajar yang luas tanpa dibatasi dinding dan atap.

Silakan baca pengalaman anak-anak kami di sini:

  1. Pengalaman belajar bersama teman-teman di Malioboro: Mencari Harta Karun Malioboro.
  2. Proses Melepas Anak Agar Mandiri: Ketika Anak Traveling Sendiri.
  3. Pengalaman Live-in Satu Bulan di Desa Gunung Lurah, Banyumas: Road to Eksplorasi Pakis; dan masih banyak lagi pengalaman belajar di luar rumah.

Simpelnya, basisnya tempat belajar anak-anak homeschooling adalah “rumah”, rumah ini merujuk pada orangtua sebagai fasilitator utama. Sebagai orang yang berperan paling besar dalam mengorganisir pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anaknya. Namun tempat belajarnya sendiri amat sangat beragam, kadang berubah-ubah setiap harinya dan sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan.

Kegiatan keseharian pun merupakan proses belajar kami. Interaksi antara kami, adalah materi belajar yang sangat penting sebagai bekal buat anak-anak berinteraksi dengan dunia di luar sana.

Jadi, dalam kondisi karantina karena pandemik covid19 ini pun kami terkena dampak tidak bisa belajar ke luar rumah. Ada beberapa tempat yang rutin didatangi anak-anak dan kegiatan-kegiatan yang memang hanya bisa dilakukan di luar rumah, seperti eksplorasi, travelschooling, berorganisasi atau berkomunitas. Ada beberapa les juga yang akhirnya dilakukan secara online.

Yang membuat homeschooler tampak lebih mudah mengalihkan proses belajarnya ke rumah dalam masa karantina pandemik covid19 ini adalah karena fleksibilitas kami dalam mengorganisir kegiatan belajar. Kami juga tidak banyak terikat dengan institusi, jadi dengan mudah bisa mengalihkan kegiatan sesuai dengan kondisi yang ada.

Namun bukan berarti tidak terkena dampak. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, banyak hikmah yang bisa kami ambil dan kami bisa lebih rapi mengatur keseharian tanpa terganggu kegiatan harus pergi kemana-mana.

Apakah Homeschooling Menjadi Solusi Bagi Siswa Sekolah Selama Karantina Pandemik Covid19

Jawaban saya, bisa ya, bisa tidak. Bagi para orangtua yang sudah punya konsep kegiatan bersama anak, tanpa merujuk kegiatannya bertajuk homeschooling-pun, saya pikir sudah melakukan kegiatan yang mirip seperti praktisi homeschooling. Jadi kalaupun pada saatnya nanti kembali ke sekolah, akan lebih mudah.

Namun, jika memang ingin beralih menjadi praktisi homeschooler jangka panjang, tentu saya akan mengucapkan “welcome to the club”. Mari berjuang bersama-sama mendidik generasi dengan sepenuh hati kita karena kita yang kelak bertanggung jawab sepenuhnya atas pendidikan mereka dan kita harus berjuang untuk masa depan mereka.

Lalu bagaimana proses beralih ke homeschooling dari sekolah formal?

Temukan jawaban detilnya di tulisan saya berikutnya. Namun secara praktisnya, saya akan menuliskan beberapa langkah singkat, kalau sekiranya teman-teman mantap ingin menjadi praktisi homescholing.

  1. Memahami konsep homeschooling itu bukan sekadar memindahkan sekolah ke rumah. Karena rumah adalah rumah, sekolah adalah sekolah. Keduanya memiliki banyak perbedaan, dan kita tidak bisa menduplikasi sekolah menjadi ada di dalam rumah kita.
  2. Yang berperan paling besar dalam proses homeschooling adalah orangtua. Jika masih menyerahkan ke satu lembaga, namanya sudah bukan lagi homeschooling. Meskipun lembaga yang dimaksudkan berlabel homeschooling.
  3. Kedua orangtua sudah bersepakat akan mendidik bersama, dan anak juga sudah memahami konsep homeschooling, sehingga semua siap menjadi praktisi dengan bahagia, yang sudah siap dengan semua konsekuensinya.
  4. Saat menjadi menjadi praktisi homeschooling, yang belajar bukan hanya anak, namun seluruh keluarga. Kita tidak bisa hanya meminta anak belajar ketika orangtuanya tidak mau belajar. Orangtua harus lebih banyak belajar terutama belajar memahami kondisi psikologis anak-anaknya.
  5. Metode homeschooling itu sangat beragam. Kita boleh memilih yang manapun yang sesuai dengan kondisi keluarga, selama pilihan kita tidak melanggar hukum dan undang-undang serta norma-norma yang berlaku.
  6. Kita tidak bisa membandingkan kegiatan atau hasil pendidikan anak-anak kita dengan pencapaian sekolah. Sungguh tidak adil kalau progress anak-anak dibandingkan dengan anak sekolahan. Ya masukkan ke sekolah saja kalau begitu.
  7. Homeschooling dalam tiap keluarga itu berbeda, dengan keunikannya masing-masing dan sesuai dengan value keluarga masing-masing.
  8. Orangtua memiliki otoritas dalam menentukan pilihan belajar anak-anaknya, namun semua sebaiknya dikomunikasikan dengan anak-anak.

Naah, kira-kira begitu penjelasan singkatnya. Karena kalau membahas A-Z homeschooling, tentunya tidak akan selesai dalam satu artikel saja. Silakan menggali tulisan-tulisan lain di blog ini, yang sudah saya posting sejak tahun 2013, sejak kami memulai menjadi praktisi homeschooling.

Semoga apa yang saya sampaikan dalam tulisan ini bisa mencerahkan teman-teman yang sedang galau di masa karantina ini.

Selanjutnya silakan baca: Memulai Homeschooling Buat Pemula

Leave a Reply

Your email address will not be published.