Menjaga Konsistensi Mendidik Anak

IMG_5464Cukup lama ya jeda saya menulis lanjutan Tantangan Homeschooler Pemula di  Tahun Pertama bagian 2 ini. Tulisan yang pertama silakan dibaca di SINI.

Poin berikutnya yang menjadi tantangan berat bagi saya dan suami dalam menjalani HS adalah menjaga agar selalu KONSISTEN dalam menjalankan proses belajar bersama anak.

Bagi orang tua yang anak-anaknya mengalami perubahan status mendadak dari sekolah menjadi tidak sekolah, ada besar harapan besar untuk bisa mendidik anak-anak terus selama 24 jam. Apalagi si anak HS newbie ini masih euphoria terbebas dari dunia sekolah, sehingga orang tua masih perlu banyak mengingatkan.

Maka, begitu si anak lepas pengawasan, dia langsung cari kegiatan sendiri yang menurutnya asyik. Seperti pegang gadget dan main game. Sementara sang orang tua (terutama ibu yang umumnya adalah pendidik utama) berharap si anak melakukan aktivitas sesuai jadwalnya, jadi anak penurut dan rajin belajar. Akibatnya kejadian deh, si ibu galau lagi.

Sementara, siapa sih yang kuat menjaga (sepertinya perlu diperjelas disini, bahwa status orang tua akhirnya adalah SATPAM rumah tangga) anak terus menerus? Pasti ada jenuhnya, lelahnya, butuh aktualisasi dirinya, perlu gaulnya. Minimal perlu lah buka-buka facebook atau posting-posting foto di Instagram.

Tentang konsistensi ini juga yang menjadi banyak pertanyaan bagi homeschooler yang akan memulai, bahwa “Mampukah saya bertahan menghadapi anak selama 24/7 di rumah” dan “Kapan ‘me time’nya, deh?”

Sebenarnya, siapa sih yang bisa konsisten menjalankan sesuatu tanpa merasa lelah atau jenuh? Tidak ada. Karena kita manusia. Sunatullahnya mengalami futur, lelah setelah bersemangat atau menurun grafik aktivitasnya setelah sebelumnya berada di puncak. Bahkan dalam menjalankan ibadah mahdhah, yang notabene wajib sewajib-wajibnya saja, kita pernah mengalami ups and downs.

Jadi, wajar kalau dalam proses HSpun kita sesekali menurun konsistensinya.

Sebelumnya, saya selalu curhat pada suami saat saya galau tentang keseharian ketika anak-anak “nggak diapa-apain” alias saya tinggalkan karena saya sedang malas-malasnya. Biasa lah, gaya curhatnya yang sambil berderai-derai gitu.

Lalu, suami memberi saran, “Nggak apa-apa kok anak-anak gak berkegiatan sesuai agenda. Toh mereka tetap berkegiatan, kan?”

Masih dengan pipi basah, saya menjawab, “Iya, kerjaan mereka main game, nonton TV dan baca komik.”

“Masih tetap sholat, gak?”

“Masih.”

“Masih tetap makan?”

“Masih.”

“Masih bantu buang sampah?”

“Masih.”

Lalu suami bilang kalau anak-anak masih baik-baik aja. Nggak masalah kalau sehari dua hari (selama ibunya futur semangat) mereka “nggak ngapa-ngapain”. Kenyataannya mereka tetap ngapa-ngapain juga, toh.

Saya ingat-ingat lagi. Ya, ternyata anak-anak ataupun kita, meski dalam kondisi yang “nggak ngapa-ngapain” itu, tetap berkegiatan kok. Yang penting masih berada dalam koridor positif. Sama seperti kondisi kita saat futur beribadah, menurun sebentar, bukan meninggalkan atau tidak ibadah sama sekali, bukan? Intinya masih menghasilkan sesuatu.

Dan yang saya rasakan, ketika kita punya niat yang kuat ingin mendidik anak-anak tanpa bantuan orang lain (dalam hal ini sekolah), kita sendiri tidak akan tahan untuk jenuh lama-lama. Naluri kita akan mendorong kita untuk tegak dan maju kembali.

Sesekali mengalami futur, ini manusiawi. Kuncinya, kita kembali ke niat awal kita, lalu perbarui kembali. Jangan lupa, salah satu fitrah manusia yang selalu ingin menjadi baik (meski usai melakukan perbuatan dosa sekalipun). Ini yang harus kita pelihara.

Apalagi seiring perjalanannya, ketika kita mulai mendidik anak-anak untuk bisa belajar mandiri dan menyukai belajar, keberadaan SATPAM rumah tangga tak diperlukan lagi. Dengan atau tanpa kita meminta, mereka akan belajar.

(Silakan baca tentang proses belajar mandiri dan  belajarnya anak HS).

 

10 thoughts on “Menjaga Konsistensi Mendidik Anak

  1. Santai saja mom, don’t be to hard to yourself. Keluarga kami juga baru setahun menjadi praktisi HS. Dan kami sangat enjoy, kami juga masih bisa menjalankan bisnis kami dengan baik. Justru setelah menjadi praktisi HS, me & son time-nya lebih banyak, menggambar bersama, bikin art & creft bersama, bercocok tanam, story telling role play, play date dengan HS club, mengikuti organisasi-organisasi lingkungan, belajar berwirausaha, dll. Sampai akhirnya sayapun mendeklarasikan diri menjadi momschooling, soalnya saya juga enjoy proses belajar dan mengajar putra kami. Yang jelas kalo ga bisa konsisten, jangan biarkan anak-anak terpapar gejet. Kalo anak saya, saya biarkan main diluar bersama teman-temannya, atau boleh juga mereka main di rumah. Seribut apapun terserah asal setelahnya mereka mau clean up. Oya sebagai referensi ini, facebook hs kami Ganesha Homeschool , saya beri nama biar orang gampang ingat meski kami adalah HS tunggal.

    1. Oyaaa, saya kenal kok Ganesha Homeschool. Anak-anak lama-lama jenuh juga dengan gadget saat mereka udah menemukan passion.
      Makasih banyak sharingnya yaa.

  2. Harus belajar banyak dari Mbak Anne dan Mbak Ferdias. Pengen banget bisa HS, si sulung baru 3,5 tahun dan adiknya 1 tahun. Tapi…saya kerja dari jam 8 sampai jam 4. Jadi gmn HSnya donk. Ada sih mbak Wiewiet yang juga kerja, tapi kayaknya waktu Mbak Wiewiet lebih fleksibel..T.T

  3. Salut lah pokoknya sama praktisi HS. dg kegiatan dan jadwal rutin di sekolah biasa aja kadang2 susah deh buat menjaga konsistensi anak mau belajar dan berkegiatan positif di rumah..apalagi yg full di rumah.
    Salut mbak…

Leave a Reply

Your email address will not be published.