Seberapa Penting Ijazah Bagi Anak Homeschooling?

Kalau teman-teman adalah orangtua homeschooler, berapa sering menerima pertanyaan, “Bagaimana mendapatkan ijazah bagi anak yang homeschooling?”

Bagi orangtua non homeschooler, pertanyaan apa yang akan terlintas di kepala saat memikirkan tentang homeschooling? “Bagaimana mendapatkan ijazahnya” kah? Kalau iya, artinya teman-teman masih normal J.

Karena sepanjang perjalanan kami menjalankan HS, yang paling pertama ditanyakan oleh teman-teman yang akan memulai HS adalah ijazah ini, selanjutnya adalah sosialisasi (silakan baca: Sosialisasi Anak Homeschooling).

Ijazah terkait dengan legalitas pendidikan. Kenapa anak sekolah butuh ijazah? Jangan-jangan tujuan utama kita sekolah dari dulu adalah supaya mendapatkan ijazah? Yuk, tanyakan pada diri masing-masing. Benarkah ijazah yang  dicari dari sebuah proses pendidikan.

Kalau menjawab iya, artinya teman-teman masih normal juga. Karena kenyataannya memang inilah yang terjadi di dunia pendidikan kita. Saat kita mendaftar ke perguruan tinggi, ijazah lah yang ditanyakan. Pun saat kita melamar pekerjaan, ijazah lah yang harus disertakan dalam Curriculum Vitae kita.

Artinya, kita sudah RESMI dinyatakan lulus jenjang pendidikan tertentu. Padahal semestinya tujuan sebuah pendidikan adalah anak-anak mendapatkan ilmu dan pengalaman, bukan hanya selembar kertas bertanda-tangan.

ijazah bagi anak homeschooling

Bagi anak-anak sekolah, urusan ijazah ini no problemo karena sudah satu paket pendidikan. Namun ijazah bagi anak homeschooling masih jadi pertanyaan terus, karena posisinya sebagai pendidikan alternatif. Namanya saja alternatif. Bayangkan pengobatan alternatif, rasanya terdengar “kurang resmi” ya dibanding pengobatan konvensional yang praktisinya harus melalui pendidikan kedokteran yang lamanya ituuu… jangan dibahas deh, bikin baper. (silakan baca kisah skripsi kuliah saya di fkg: Peneliti atau Tukang Jahit). Dikotomi ini yang tengah berlangsung di masyarakat.

Jadi wajar ya kalau pertanyaan ijazah ini adalah yang utama. Karena satu lembar kertas ini seolah menjadi satu kunci kesuksesan anak-anak kita di masa mendatang. Padahal kalau teman-teman ingin memulai HS, there are loads of things to think about besides one powerful sheet of paper called IJAZAH ini.

Sebelum membahas hal-hal apa saja yang perlu dipikirkan saat memulai HS, perkenankan saya bicara sedikit tentang dari mana ijazah bagi anak homeschooling diperoleh.

  1. Lewat PKBM atau Program Kelompok Belajar Mandiri. PKBM ada yang dikelola swasta ataupun negeri. Awalnya, PKBM ini khusus dibuat bagi anak-anak putus sekolah yang ingin mengejar pendidikan formal melalui ujian Paket A, B, C. Seiring dengan pertumbuhan pendidikan alternatif, salah satunya homeschooling, PKBM juga menerima anak-anak HS untuk mengikuti ujian Paket (UNPK).
  2. Lewat Sekolah Payung (umbrella School). Ini adalah sekolah formal yang bersedia mewadahi anak-anak HS untuk mengikuti Ujian Nasional di sekolahnya. Dengan catatan, anak HS ini siap mengikuti ketentuan yang ditetapkan sekolah tersebut.
  3. Lewat jalur non Diknas, seperti Cambridge, SAT, dll. Ada beberapa lembaga yang menyediakan program ujian Cambridge. Hanya saja program ini tidak sama dengan UN dan UNPK yang menyatakan kelulusan. Ujian ini hanya berupa assessment.

Sampai saat ini, ketiga jalur inilah yang dipakai anak-anak HS untuk mendapatkan legalitas pendidikannya. Meski sekarang, sudah ada institusi atau perusahaan yang tidak lagi mensyaratkan ijazah. Karena yang dicari adalah skill yang dinyatakan dalam bentuk Seritikat Kompetensi. Dan ini bisa menjadi salah satu opsi bagi anak-anak HS yang tidak ingin menempuh pendidikan tinggi.

ijazah homeschooling

Lalu, apa saja sih yang harus dipikirkan oleh para orangtua sebelum mengHSkan anaknya selain urusan ijazah bagi anak homeschooling:

 

  1. Menentukan tujuan berHS. Kenapa memilih HS?

Seringkali HS dipilih karena bentuk kekecewaan terhadap pendidikan formal. Atau mengikuti trend karena orang mulai beramai-ramai beralih ke HS. Menentukan tujuan ini penting di awal agar segala konsekuensi dan tantangan yang akan ditemukan ketika sudah terjun tidak menghambat perjalanan anak kita.

Jangan sampai karena orangtuanya super galau, anak-anak jadi terbengkalai.

Pilihlah HS kalau orangtua memang ingin mengambil alih pendidikan anak seutuhnya, tidak lagi mendelegasikan pada institusi pendidikan. Yakin akan pilihan ini dan tidak memutuskan secara sepihak. Buatlah keputusan bersama anak dan saling memahami konsekuensinya.

(Silakan mengunjungi: Mengapa Memilih Homeschooling?)

  1. Menentukan visi misi keluarga

Jangan memulai HS kalau belum siap dengan visi misi keluarga. Kita tidak sedang coba-coba, kan? Masa pendidikan anak untuk coba-coba? Homeschooling merupakan pendidikan berbasis keluarga, yang dalam menjalankannya kita akan berpegang pada visi misi itu.

Tiap keluarga mempunyai value yang berbeda, jadi kita harus menentukan sendiri dan jangan membandingkan dengan keluarga lain. Jika kita belum punya core value keluarga, jadinya proses Hsnya akan meraba-raba.

  1. Kesamaan konsep pendidikan antara suami istri.

HS akan lebih sulit kalau suami istri belum punya satu suara dalam mendidik anak. Karena kalau yang satu punya prinsip A dan yang lain punya prinsip Z, si anak akan bingung memahami goal terhadap dirinya.

Akan menjadi berat juga menjalani HS kalau ada salah satu orangtua yang tidak setuju menjalankan HS. Sebaiknya disamakan dulu persepsinya dan bergerak bersama bergandengan tangan. Karena HS bukan hanya tentang belajar mata pelajaran sekolah atau memindahkan belajar di rumah, namun ini tentang membangun peradaban yang mulainya dari rumah.

Nah, ketiga konsep ini yang menurut saya cukup penting dipertimbangkan sebelum bertanya-tanya tentang ijazah atau sosialisasi. Bukan tidak boleh. Tentu ijazah juga penting, tapi tujuan saya menulis ini adalah bahwa ijazah bagi anak homeschooling ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan apalagi penghambat jika niat homeschooling sudah mantap.

Lakukan saja, dimulai dengan Basmalah. Selama masih banyak teman berHS, artinya kita tidak akan sendirian memperjuangkan legalitas ini. Berjejaring saja dengan homeschooler lainnya. Yang penting, kemantapan hati dan kekompakan suami istri untuk memulai mendidik anak bersama-sama.

Yuk, lakukan :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published.