Sebuah Pilihan

picture credit
picture credit

Kalau ditanya kenapa memilih homeschool, jawabannya sudah jelas diterangkan oleh suami saya di postingan sebelumnya. Meski begitu, saya masih merasa deg-degan dengan pilihan ini.

Anak saya yang sulung sekarang 9 tahun, baru saja selesai kelas 3 Primary (di Australia kenaikan kelasnya bulan Desember-Januari). Lalu kami memutuskan untuk beralih ke homeschool.

Apa yang salah dengan sekolah? Tidak ada. Pilihan ini bukan semata-mata karena saya merasa sekolah gagal menjalankan tugas pendidikan untuk anak saya atau tidak percaya dengan institusi pendidikan formal.

Beragam sumber saya baca untuk mendapatkan informasi lengkap tentang homeschool. Dan saya terkesan dengan sebuah tulisan yang mengatakan untuk tidak memilih homeschool sebagai pelarian atas kekecewaan pada sekolah formal. Walaupun tidak bisa dipungkiri, banyak alasan tentang sisi negatif sekolah yang menguatkan saya untuk memilih homeschooling.

Apa yang terjadi jika kita memilih homeschool karena kecewa pada sekolah?

Pertama, kita akan menetapkan target yang tinggi pada homeschool kita, yaitu harus melebihi apa yang diberikan sekolah.

Kedua, anak-anak pun akan kita jadikan tolak ukur keberhasilan, bahwa mereka harus lebih hebat daripada anak-anak yang sekolah formal.

Ketiga, kita akan memindahkan program sekolah ke rumah. Menggunakan kurikulum sekolah sebagai acuan, dan kemudian selalu membandingkannya.

Padahal, justru kita memilih homeschooling agar lebih leluasa memberikan pilihan kepada anak-anak sesuai minat dan kemampuan mereka,bukan?

Apapun jenis pendidikan yang kita gunakan untuk anak-anak adalah pilihan, dengan segala konsekuensinya masing-masing. Semua ada kekurangan dan kelebihannya, dan tergantung kondisi si anak lebih cocok untuk berada di mana.

Saya sendiri mencoba meluruskan terus niat, dan mengembalikan landasan saya pada Al Qur’an. Dalam QS An Nisa ayat 9 Allah berfirman, “Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka dan khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Dalam beberapa sumber yang membahas tafsir ayat ini, orang-orang beriman diminta untuk meninggalkan kebiasaan kaum Jahiliyah yang meninggalkan anak-anak dan wanita tanpa warisan ketika mereka wafat, sehingga mereka ditinggalkan dalam keadaan fakir.

Namun beberapa mufasir juga menghubungkan ayat ini dengan tanggung jawab orang tua untuk membekali anak-anaknya dengan kemampuan untuk bisa bertahan hidup, dalam hal ini adalah pendidikan dan ilmu.

Jadi sesungguhnya, tanggung jawab pendidikan ada di tangan orang tua. Tugas pertama mendidik anak-anak adalah orang tua. Dan inilah yang kemudian saya pegang, bahwa saya ingin mengembalikan fungsi pendidikan seperti yang tercantum dalam Al Qur’an. Nggak ada salahnya mencoba, bukan? Meskipun waktu 24/7 bersama anak-anak ini sungguh merupakan tantangan berat.

Namun di luar itu semua, saya tidak menganggap pilihan ini paling baik. Saya sepenuhnya menghargai pilihan orang lain untuk tetap sekolah. Bukankan kalau kita tidak yakin bisa, serahkan saja pada ahlinya.

Dan sikap ini juga adalah sebuah pilihan.

 

 

 

 

 

One thought on “Sebuah Pilihan

Leave a Reply

Your email address will not be published.